
Buku ini merupakan biografi dari Hayatun Nusuf yang ditulis oleh Syarifah Nurlinda, terbit tahun 2023 dengan ISBN 978-623-8363-03-02. Buku ini ingin meluruskan pandang yang salah terhadap Islam. Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan memilih posisi nya masing-masing sesuai dengan fitrahnya. Selama fitrah itu terjaga, laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menjalani kehidupan, baik di bidang pendidikan, politik dan sosial kemasyarakatan. Keadilan gender, ya keadilan gender yang tersirat dalam biografi ini.
Dalam dunia yang penuh dengan tuntutan keadilan seperti sekarang ini, tuntutan keadilan gender menjadi salah satu persoalan keagamaan dalam masyarakat Muslim. Persoalan ini berakar dari bias gender dalam penafsiran Alquran yang merugikan perempuan dalam kehidupan sosialnya. Bias gender dalam penafsiran ayat-ayat Alquran memuat berbagai pandangan diskriminatif yang menindas perempuan.
Di ujung abad 20, ide keadilan gender mulai ramai diperbincangkan mengiringi perkembangan pemikiran Islam. Bias gender mulai digugat. Ide keadilan gender mulai diusung oleh tokoh-tokoh feminisme Islam . Feminisme adalah suatu kesadaran akan penindasan terhadap perempuan dalam Masyarakat, tempat kerja dan keluarga dan Tindakan sadar perempuan dan laki-laki untuk mengubahnya. Dewasa ini Feminisme telah berkembang secara global menjadi sebuah teori dan masuk ke dalam berbagai lini kehidupan. Inti dari feminisme adalah keadilan gender.
Melalui buku biografi ini, Syarifah Nurlinda sebagai Penulis mengedepankan keadilan gender dalam Islam melalui kisah hidup Hayatun Nusuf. Dengan mengumpulkan cerita lengkap dari Hayatun Nusuf, Penulis mengolahnya menjadi sebuah pengetahuan tentang keadilan gender yang pada saatnya dapat menjadi sebuah teori atau studi feminisme dalm Islam.
Hayatun Nusuf, tokoh utama dalam buku ini, adalah Perempuan dari negeri yang terkenal kuat syariat Islamnya dan Islam fanatik yang anti feminisme, yaitu Aceh. Lahir pada tahun 1920 di Meunasah Pante Kulo. Hayatun Nusuf dilahirkan dalam keluarga berkesadaran gender. Bayangkan pada tahun 1940, ayahnya sudah mendukung anaknya untuk memperoleh Pendidikan sama dengan anak laki-laki. Pada umur 12 tahun Hayatun diizinkan orang tuanya untuk pergi merantau melanjutkan sekolahnya ke SMP yang tidak ada di desanya. Hal ini sangat mencengangkan kita yang hari yang masih bergulat dengan perjuangan feminisme, hidup yang berkeadilan gender.
Hayatun Nusuf sangat mementingkan Pendidikan dan berjuang mendapat Pendidikan tinggi yang kala itu belum banyak dijangkau oleh anak-anak perempuan. Hayatun lulus dari Fakultas Tenik Kimia UGM Jogya, sebagai insinyur Teknik Kimia, Insinyur pertama Perempuan dari Aceh, lalu diangkat menjadi kakanwil dep. Perindustrian Propinsi Aceh dan berkarir disana selama selama 20 tahun. Dia seorang Perempuan pekerja memimpin kantor dan sekalian menjadi ibu rumah tangga sebagai isteri dan ibu dari anak-anak nya. Hayatun dapat melakukan keseimbangan dari peran-peran ini, sehingga everything is running well.
Keseimbangan antara karir dan rumah tangga yang diperlihatkan Hayatun merupakan hal penting untuk dipahami. Menjalankan karier dan rumah tangga secara bersamaan merupakan tantangan yang sering dihadapi oleh perempuan pekerja, namun hal ini sangat mungkin dilakukan dengan perencanaan dan pendekatan yang tepat. Kunci utamanya adalah manajemen waktu yang baik.Di sisi rumah tangga, penting untuk melibatkan pasangan dan anggota keluarga lain dalam pembagian tugas agar tanggung jawab tidak hanya dipikul sendiri. Memiliki pasangan yang suportif dan keluarga yang pengertian, dapat memberikan kekuatan mental dan emosional. Setiap perempuan sebaiknya memahami nilai dan tujuan hidupnya sendiri, sehingga bisa menentukan apa yang menjadi prioritas dan menyesuaikan langkah-langkah hidupnya. Dengan pendekatan ini, keseimbangan antara karier dan rumah tangga bisa lebih mudah dicapai.
Penutup
Singkatnya, buku ini merupakan kisah Pergulatan hidup seorang Perempuan, yang menunjukkan perlunya keadilan gender dalam kehidupan sosial, terutama Pendidikan. Hayatun menempuh jalur Pendidikan untuk maju, baginya Pendidikan bukan untuk menyaingi laki-laki tapi untuk membentuk generasi. Perempuan adalah pendidik pertama dan utama bagi manusia. Mendidik seorang Perempuan berarti mendidik seluruh keluarga.
Disamping itu, keseimbangan antara karir dan rumah tangga merupakan hal kunci kesuksesan. Menjalankan karier dan rumah tangga secara bersamaan merupakan tantangan yang sering dihadapi oleh perempuan pekerja, namun dengan pendekatan yang tepat keseimbangan antara karier dan rumah tangga bisa lebih mudah dicapai.
Hayatun Nusuf dapat dikatakan sebagai generasi pertama yang menunjukkan keadilan gender atau feminisme jauh sebelum isu tentang keadilan gender dalam konteks global dan dunia Islam meluas. Diharapkan, dimotivasi oleh karya biografi ini, tampil pemikir-pemikir gender yang berani untuk membangun dentuman keras dan tepat dalam memperjuangkan keadilan gender.
Bukunya bisa dipesan disini
(Mardety.M)



