
Pertemuan keempat sosok itu bukan sembarang pertemuan. Pertemuan itu memang dirancang di sebuah pusat pertokoan di Jakarta, hari ini.
Keempat sosok adalah Direktur Pengembangan PT Produksi Film Negara (sebuah BUMN) Narliswandi (Iwan) Piliang, aktris senior Niniek L Karim, jurnalis senior Haris Jauhari, dan web developer Defri.
Pertemuan itu sesungguhnya pertemuan kedua Iwan Piliang dengan Niniek L. Karim.
Pada pertemuan pertama, di tempat sama, Iwan dan Niniek tak sengaja bertemu.
“Pertemuan tak sengaja dengan artis film top 1980-an, pemenang 4 Piala Citra, artis terbaik Film Asia Pasifik 1988, untuk perannya di Film Ibunda. Di hari kerja ke-7 duduk sebagai Direktur Pengembangan PFN,” ujar Iwan di akun IG-nya, 19 Maret 2025.
Iwan sejatinya lama mengenal Niniek L Karim. Di saat ia masih reporter pemula, yang ikut mengubah majalah Zaman ke Matra, kurun waktu 1984-1986, Niniek sering datang ke kantornya menemui (almh) Tuti Indra Malaon, Redaktur Matra (yang juga aktris).
“Mbak Niniek selalu duduk di depan meja saya. Mereka berdua juga sesama dosen di Psikologi UI. Inilah era di mana artis juga pengajar, juga menjadi rujukan meningkatkan mutu peradaban,” Iwan menulis.
Nah, berpuluh tahun kemudian Iwan dan Niniek bertemu lagi.
“Kita harus bikin film Rohana Kudus,” ujar Niniek, kala itu.
Obrolan singkat tersebut ternyata membangkitkan spirit perfilman Indonesia kembali bersinar. Khususnya di PFN. Lembaga yang dulunya banyak melahirkan film-film hebat seperti Pareh, Serangan Fajar, Si Unyil hingga G-30S/PKI.
Berpatok pada niat memproduksi kembali film-film hebat maka pertemuan kedua kembali digelar. Topik utama tentu membahas lagi film Rohana Kudus.
Di akun X-nya, Iwan memaparkan, Rohana Kudus adalah sosok luar biasa. Pahlawan Nasional tersebut adalah pendiri koran perempuan pertama di Indonesia. Namanya Soenting Melajoe.
“Di Koto Gandang, Sumbar, Rohana, mengajar anak kampoeng belajar Bahasa Belanda di masanya, memotivasi nyata bersekolah berpendidikan, motivator maju generasi,” Iwan menulis di X.
Rencana pembuatan film itu bahkan sudah dibahas detailnya.
“Time table Rohana Kudus menjadi begitu nyata, dan mulai digerakkan produksi. Kalaupun ada kendala tinggal waktu,” ujar Iwan.
Ya, satu kendala karena Niniek akan membawa rombongan tari Indonesia keliling Eropa selama 1,5 bulan, mulai Juli tahun ini.
Keinginan Iwan Piliang menggarap film Rohana Kudus tentu layak diacungi jempol.
Roehana Koeddoes atau Rohana Kudus (20 Desember 1884-17 Agustus 1972) adalah wartawati pertama Indonesia.
Pada 1911, Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Rohana juga menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.
Ketika surat kabar itu dibredel pemerintah Hindia-Belanda, Rohana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Soenting Melajoe, surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
Rohana hidup sezaman Kartini, saat akses perempuan mendapat pendidikan baik sangat dibatasi.
Rohana dilahirkan di Desa (nagari) Koto Gadang, Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda. Ayahnya Mohammad Rasjad Maharadja Soetan adalah kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan.
Rohana adalah saudara tiri Sutan Sjahrir, dan sepupu Agus Salim, intelektual dan politisi penting dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Dia juga bibi penyair Indonesia Chairil Anwar.
Rohana tidak mengenyam pendidikan formal tetapi sangat cerdas. Dia belajar pada ayahnya tentang studi bahasa.
Rohana berkomitmen kuat pada pendidikan untuk kaum perempuan. Ia sedikit dari yang percaya, diskriminasi terhadap perempuan adalah tindakan semena-semena. Rohana melawan ketidakadilan itu.
Upaya Rohana pada bentuk pendidikan yang lebih terorganisir datang pada 1905 ketika ia mendirikan sekolah di Koto Gadang.
Pada 1908, di usia 24 tahun, Rohana menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris, dan dikenal sebagai Roehana Koeddoes. Abdoel Koeddoes mendukung upaya istrinya dalam mendidik perempuan.
Pada Februari 1911, Rohana mendirikan perkumpulan pendidikan perempuan yang lebih terorganisir, bernama Kerajinan Amai Setia. Rohana mengajarkan keterampilan serta membaca tulisan Jawi dan Latin serta mengelola rumah tangga.
Sekolah ini mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 1915, dan menjadi pusat pengrajin untuk bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam penjualan karya mereka di kota-kota besar dan luar negeri. Bangunan sekolah itu masih berdiri sampai sekarang.
Rohana percaya, mendidik perempuan harus secara keseluruhan. Ia mengirim surat kepada Soetan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe mengusulkan untuk memulai sebuah surat kabar berorientasi perempuan.
Maharadja setuju. Ia telah lama mendengar tentang kegiatan pendidikan Rohana.
Pada 10 Juli 1912, terbitan pertama Soenting Melajoe sebuah surat kabar berbahasa Melayu dengan pembaca yang dituju, diluncurkan.
Surat kabar itu membahas isu-isu sosial hari itu, termasuk tradisionalisme, poligami, perceraian, dan pendidikan anak perempuan.
Soenting Melajoe merupakan surat kabar yang terbit tiga kali dalam seminggu. Soenting Melajoe tercatat dalam sejarah sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah perempuan.
Rohana menghabiskan waktu sepanjang hidupnya dengan belajar dan mengajar. Mengubah paradigma dan pandangan masyarakat yang menuding perempuan tidak perlu menandingi laki-laki dengan bersekolah.
Pada awal 1921, Rohana meninggalkan Soenting Melajoe. Setelahnya Soenting Melajoe tidak bertahan dan terbit terakhir Januari 1921.
Saat perang kemerdekaan 1945-1949, Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga mencetuskan ide penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.
Rohana Kudus meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972 tepat 27 tahun Indonesia merdeka. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak.
Sejak 7 November 2019, pemerintah Indonesia mendeklarasikan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Itulah sepenggal kisah Rohana Kudus. Kisah yang tentu lebih hidup dan berwarna ketika sosoknya tampil di film karya anak bangsa.
Kita tunggu kiprah Bung Iwan Piliang, Niniek L Karim dan kawan-kawan.
(Didik LP)



